Pengumpulan Tugas

Buat teman-teman AKL-II Kelas F, untuk pengumpulan tugas silahkan kumpulkan di sini (di kolom Leave a Reply), dengan aturan sebagai berikut:

NAMA: (isikan nama Anda)

NIM: (isikan NIM Anda)

TUGAS KE: (minggu ke_judul tugas)

ISI TUGAS:

(isikan tugas Anda di bawah sini)

Iklan

3 Tanggapan

  1. NAMA: YUDI KURNIAWAN LASTANTO

    NIM: 2006310101

    TUGAS KE: 1_Artikel Penggabungan Usaha

    ISI TUGAS:
    Unilever Merger dengan Knorr
    Rabu, 23 Juni 2004 | 18:20 WIB
    TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Unilever Indonesia Tbk. menggabungkan usahanya atau merger penuh dengan PT Knorr Indonesia. Merger ini merupakan kelanjutan akuisisi Unilever terhadap 99,99 persen saham PT Knorr yang berlangsung Januari lalu.
    “Merger ini diharapkan bisa mendapatkan sinergi dan efisiensi operasional lebih lanjut,” kata Direktur Utama Unilever Maurits Lalisang dalam paparan publik di Hotel Gran Melia, Jakarta, Rabu (23/6).
    Keputusan merger ini sudah disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa ini. Menurutnya ada merk produksi PT Knorr sudah cukup tenar di dunia. Akuisisi ini merupakan rangkaian akusisi perusahaan induk PT Knorr di Amerika oleh perusahaan induk Unilever di Belanda. “Knorr bisa memanfaatkan jaringan distribusi Unilever di Indonesia,” kata dia.
    Menurut Maurits, Unilever masih mengkaji kemungkinan akusisi atau merger dengan perusahaan lainnya selama 2004 ini. Menurutnya, Unilever terus mencari kesempatan untuk meningkatkan pertumbuhan melalui akuisisi atau mengembangkan kinerja perusahaan (organic growth).
    Maurits tidak menyebutkan nama perusahaan yang akan diambil alih ini karena belum sampai tahap yang matang. “Rencana selalu ada tapi mengakuisisi perusahaan bukan persoalan yang mudah,” kata dia.

    Tahun 2004, lanjut dia, tingkat konsumsi kebutuhan rumah tangga sedikit melemah. Namun Maurits optimis tingkat penjualan bisa meningkat sekitar 10 sampai 15 persen. Selama 2003 Unilever membukukan keuntungan sebesar Rp 8,1 triliun.
    Unilever juga membukukan laba bersih sebesar Rp 1,297 triliun. Dalam rapat ini, perseroan membagikan dividen sebesar Rp 200 per saham yang merupakan 118 persen dari laba bersih atau total Rp 1,526 triliun. Kelebihan dividen di atas laba ini merupakan tambahan dari laba yang ditahan tahun lalu.
    Sebelumnya Unilever telah membayar dividen interim sebesar Rp 50 per saham pada Maret 2004. Sementara sisanya Rp 80 per saham akan dibagikan pada Agustus 2004. Total dividen Rp 200 per saham ini meningkat 67 persen dari tahun sebelumnya.
    Maurits mengatakan tingginya jumlah dividen ini berkaitan dengan ulang tahun PT Unilever ke-70. Menurutnya jumlah dividen ini tidak akan berpengaruh pada posisi dana tunai perseroan. “Dana perseroan berada dalam posisi surplus sepanjang tahun dengan posisi dana akhir sebesar Rp 1,1 triliun,” kata dia.
    Unilever juga menganggarkan dana belanja atau capital expenditure sebesar US$ 140 juta tahun 2004 ini. Dana ini akan digunakan untuk penambahan kapasitas produk Unilever. Selain itu, Unilever juga menganggarkan dana US$ 500 juta untuk investasi selama 10 tahun. Besarnya investasi tiap tahun, kata Maurits, tergantung kebutuhan perseroan mengembangkan usahanya.

  2. NAMA: Dion Yanuar Purba

    NIM: 2006310010

    TUGAS KE: 1_Artikel Penggabungan Usaha

    ISI TUGAS:

    Akuisisi
    Computer Associated (CA) melakukan akuisisi MDY Group International, Inc, perusahaan yang bergerak untuk penyediaan jasa dan peranti lunak untuk kebutuhan pengelolaan data berbagai perusahaan. Akuisisi ini diharapkan dapat membantu klien-klien setia CA untuk memenuhi kebutuhan suatu perusahaan dan pengelolaan data perusahaan. Melalui akuisisi ini, diharapakan organisasi-organisasi yang merupakan klien CA dapat melakukan penghematan dari sisi keuangan karena produk-produk yang sebelumnya dikeluarkan MDY, seperti MDY FileSurf bisa membantu berbagai organisasi untuk mengendalikan data dalam bentuk fisik, elektronik, dan e-mail yang tersebar di seluruh bagian organisasi tersebut. Selain MDY FileSurf yang juga telah mendapatkan sertifikasi 5012.2 Standard dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DoD) untuk manajemen data, solusi MDY lainnya, yaitu Federated RM Solution diharapkan dapat juga membantu berbagai organisasi untuk menerapkan berbagai strategi menajemen data melalui satu data konsol dan peraturan yang terpusat.
    Dikutip dari : http://www.chip.co.id/corporate-industry/ca-akuisisi-mdy-group-perusahaan-penyedia-jasa-dan-software-untuk-pengelolaan-2.html

    Merger
    Kelompok Japan Airlines Corp. merencanakan melakukan merger perusahaan holdingnya dengan unit Japan Airlines International Co. dan Japan Airlines Domestic Co. pada akhir Maret 2007. Merger itu dimaksudkan untuk mempersingkat operasional kelompok tersebut sebelum ekspansi operasiaonalnya di bandara Haneda Tokyo yang ditetapkan pada 2009 dan sehubungan dengan naiknya harga bahan bakar.Langkah tersebut akan menyelesaikan proses yang dimulai Oktober 2002 penggabungan mantan Japan Airlines Co. dan mantan Japan Air System Co.Sejak pembentukan `holding company` yang saat ini dikenal dengan Japan Airlines Corp., dua perusahaan penerbangan itu merubah nama mereka dengan Japan Airlines International dan Japan Airlines Domestic masing-masing untuk melayani jasa penerbangan domestik dan internasional.Persiapan untuk merger, tiga perusahaan mulai April mendatang akan memulai mengurangi jumlah anggota `full-time board` dan mengurangi sektor bisnis yang tumpang tindih. JAL Sales Co., sebuah agen perjalanan, mungkin juga akan merger dengan tiga perusahaan lainnya, kata para pejabat tersebut
    Dikutip dari : http://www.kapanlagi.com/h/0000049682.html

    Konsolidasi
    Jakarta-BNI akan mengonsolidasi berbagai anak perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan dalam pengelolaan manajemen risiko. Konsolidasi ini terkait peraturan dari Bank Indonesia yang menghendaki perbankan nasional memasukkan risiko anak usaha sebagai perhitungan manajemen risiko pada perusahaan induk (Bank BNI Pusat).
    bank sentral melakukan pengawasan. Penerapan manajemen risiko bank dan anak usaha ini juga merupakan persyaratan dari BI untuk penerapan praktik-praktik perbankan internasional (Basel II).
    Dalam Basel II, perbankan perlu melakukan konsolidasi organisasi, sistem informasi teknologi (IT), sistem prosedur dan sebagainya.
    Sementara itu untuk meningkatkan kemampuan manajemen risiko, BNI menggandeng ABN Amro Bank NV untuk melakukan konsultasi dan supervisi operational risk management (ORM). Kerja sama ini untuk meningkatkan nilai perusahaan dan daya saing perusahaan.
    Dikutip dari : http:// http://www.sinarharapan.co.id/berita/0708/15/uang06.html

  3. NAMA: SLAMET BUDI WALUYO

    NIM: 2006310019

    TUGAS KE: 1_Artikel Penggabungan Usaha

    ISI TUGAS:

    Artikel Pertamina

    Perkapalan Perlu Peran Lebih Besar Lagi

    MERAIH BINTANG YANG HILANG :

    Perkapalan Perlu Peran Lebih Besar Lagi

    Menengok Sejarah Migas dan Pertamina

    Kegiatan pencarian migas di bumi Indonesia sudah berlangsung sejak tahun 1871, hanya dua belas tahun setelah minyak dunia pertama di bor di Pennsylvania. Produksi komersil pertama dimulai pada tahun 1885 dan pada ujung abad tersebut minyak bumi sudah diproduksi di kilang-kilang Sumatra Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur dan di Kalimantan.

    Standard Oil of New Jersey masuk ke Indonesia pada tahun 1912 dan kemudian menggabungkan kepentingan mereka di Timur Jauh dengan Mobil Oil untuk membentuk Stanvac. Pada tahun 1936 terjadi penggabungan saham Asia dengan Texaco untuk membentuk Caltex. Jadi terdapat lima maskapai minyak interna-sional di Indonesia pada tahun 1940-an. Pada tahun tersebut produksi minyak Indonesia berada pada tingkat kelima di dunia. Dua puluh lima tahun kemudian, turun menjadi peringkat kedua belas dunia, sekalipun terdapat kenaikan produksi minyak secara signifikan.

    Era kebangkitan kembali industri migas terjadi pada tahun 1970-an di mana Indonesia kembali di barisan depan dalam pengembangan minyak dunia, setelah Pertamina berhasil menemukan sumber-sumber minyak baru di berbagai tempat di penjuru tanah air seperti di Jatibarang, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, yang diteruskan dengan melakukan pembangunan stasiun pengumpul minyak dan prasarana lifting cargo, pengambil alihan Stanvac (Sungai Gerong) oleh Pertamina dan pembangunan kilang minyak baru Dumai serta meningkatnya jumlah penandatanganan Kontrak Bagi Hasil dengan IIAPCO, Total dan Union. Hal tersebut menunjukkan bahwa bisnis migas Indonesia adalah bisnis internasional dan Pertamina telah memperoleh tempatnya dalam masyarakat minyak dunia.

    Pada 15 September 1971 disahkan dan diberlakukan Undang-undang No. 8 Tahun 1971 Tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina). Dengan undang-undang ini Pertamina memper-oleh hak kuasa pertambangan dengan batas-batas wilayah dan persyaratan yang ditetapkan oleh Presiden se-panjang mengenai pertambangan minyak dan gas bumi (migas). Melalui undang-undang ini Pertamina melakukan peningkatan pengu-sahaan migas di selu-ruh wilayah Indo-nesia dan pengem-bangan usaha, baik yang terkait dengan migas maupun yang bukan migas.

    Pada tanggal 17 Sep-tember 2003, Pertamina berubah menjadi sebuah perseroan yang dibentuk berdasarkan Undang-un-dang No. 22/2001 tentang Migas yang sangat libe-ralistik. Kedudukan Pertamina sama dengan perusahaan lain yang wajib tunduk dengan UU No.1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, UU No.19 Tahun 2003 tentang BUMN dan ketentuan lain yang berlaku bagi perseroan pada umumnya.

    Satu hal yang menarik dan penting dikemukakan di sini adalah pengalaman Direktur Utama Ibnu Sutowo pada awal berdirinya Pertamina, yang disampaikan secara terbuka ketika berkenalan dengan perusahaan migas asing di Indonesia. Mereka menyam-paikan dengan penuh kesombongan bahwa bangsa Indonesia tidak dapat mengelola kegiatan usaha perminyakan karena keteram-pilan itu terbatas dan hanya dimiliki oleh bangsa asing.

    Kondisi SDM yang riil pada saat itu dapat dikatakan lebih banyak kekurangannya apabila dibandingkan dengan kurangnya uang sebagai modal investasi bisnis migas yang sangat besar. Ketika melahirkan UU Migas No. 44 Tahun 1961, lahir pula 3 (tiga) Perusahaan Negara bidang migas yaitu PT Permina, PT Permigan dan PT Pertamin. Dari ketiga perusahaan negara tersebut hanya Permina dan Pertamin saja yang mampu beroperasi dengan baik, sedangkan Permigan dilikuidasi. Penggabungan menjadi Pertamina terjadi pada 20 Agustus 1968 melalui dekrit penggabungan Permina dan Pertamin. Melalui UU ini pada tahun 1962 dapat ditandatangani 40 kontrak dengan pen-dapatan lebih kurang US$ 6 Juta. Sedangkan tahun 2006 ini, menurut Dirut Pertamina Ari H. Soemarno dapat mencapai keuntungan sebesar US$ 3 Miliar atau Rp 24 Triliun dan menjadi BUMN terbesar di Indonesia.

    Posisi Perkapalan Dahulu dan Sekarang

    Pada saat penggabungan, Permina memiliki kapal sebanyak 55 unit kapal, dengan tonase lebih dari 320.000 DWT. Pertamina terus meluaskan armadanya, baik domestik maupun internasional. Faktor terpenting sekali pada saat itu adalah filosofi belajar dengan bekerja, dengan dasar pertimbangan mem-peroleh suatu pengetahuan dari setiap daerah operasi minyak. Untuk operasi tanker inter-nasional pada saat itu, Permina mendirikan satu anak perusahaan di Hongkong, yang merupa-kan pasar internasional terdekat yaitu Ocean Petrol Ltd. pada tanggal 18 Juli 1968.

    Kini, tahun 2007 Pertamina memiliki 36 unit kapal yang terdiri dari tipe LR/MR/GP/Small/Lighter dengan tonase lebih kurang 770.000 DWT dan mengoperasikan lebih dari 100 unit kapal bukan milik, dengan konsentrasi trading domestik untuk menjalankan misi pemerintah (PSO) dalam menjamin keamanan supply BBM nasional.

    Meskipun dalam kurun waktu hampir 40 tahun terjadi peningkatan tonase kapal milik sebesar lebih dari 100%, namun dengan jumlah ketersediaan cargo yang diangkut mencapai 28,359 juta LT (crude oil) dan 47,174 Juta LT (BBM) serta 805 ribu Ton (non BBM) atau total 76,338 juta LT (2005), dibandingkan dengan angka penjualan BBM sebanyak 13 juta barrel (± 2 juta LT) dan angka produksi 36,618 juta barrel (5,6 juta LT) pada tahun 1968, investasi kapal sebagai alat angkut utama BBM adalah sangat minim. Membanding-kan dengan kondisi tahun 1968, tiap 1 juta LT produksi cargo disediakan tonase kapal sebesar 57.143 DWT. Jadi untuk mengang-kut cargo 76,3 juta LT, tonase kapal yang diperlukan 4.360.000 DWT atau 13 kali dari jumlah tonase di tahun 1968 atau lebih dari 5 kali jumlah tonase 2005. Atau dengan kata lain, jumlah kapal yang dimiliki oleh Pertamina semestinya 5 kali lebih banyak dari pada jumlah kapal yang ada pada saat ini sehingga dapat disamakan dengan kondisi tahun 1968 dalam hal kepemilikan kapal. Kondisi riil ini, merupakan sebuah tantangan besar yang harus dijawab dengan berpikir strategis, kerja keras dan fokus untuk mendapatkan hasil yang maksimal bagi perusahaan dan dapat memberikan kepuasan bagi pelanggan.

    Menjawab Tantangan dan Menggapai Bintang

    Ketika kapal berlayar di tengah samu-dera, maka bintang di langit merupakan penuntun yang utama sebelum para pelaut mengandalkan teknologi elektronik meng-gunakan satelit. Visi perusahaan yang unggul, maju dan terpandang adalah visi untuk meraih bintang. Visi ini sendiri lahir sebagai jawaban Pertamina menghadapi tantangan global dan guidance melakukan transformasi.

    Transformasi yang sudah terjadi berulangkali akibat penyesuaian terhadap tuntutan perubahan jaman, menuntut seluruh anggota Pertamina bergerak dinamis mengikutinya. Hal itu harus dapat berlangsung sebagaimana yang terjadi di perusahaan-perusahaan besar lainnya di dunia. Transformasi harus dipandang sebagai sesuatu yang wajar.

    Apa yang membuat jumlah armada kapal milik Pertamina saat ini menjadi lebih kecil apabila dibandingkan dengan era 1968-an, sepantasnya kita melakukan refleksi diri. Perkapalan harus dikelola secara lebih profesional dari yang dilakukan sekarang. Pola angkut FOB (free on board) untuk muatan import akan sangat memberikan peluang bagi pengembangan armada kapal milik dari sisi jumlah unit kapal, tonase dan pengelolaannya. Bukan hal mustahil bila pembenahan serius dilakukan melalui perbaikan sistem, proses dan proyek break-through (terobosan) yang bersifat inovatif akan mampu membuat Perkapalan menan-tang pengangkutan eksport mengguna­kan pola CIF (cost insurance & freight) atau C & J (cost & freight).

    Good Corporate Governance (GCG) sudah digulirkan di Pertamina. Maka semua pihak harus menjadikannya sebagai guidance, mulai dari BOD, BOC hingga para pekerja yang merupakan anggota perusahaan sekaligus sebagai stakeholder. Dalam ruang lingkup hubungan industrial, pekerja merupakan harta yang tinggi nilainya bagi perusahaan dan merupakan sarana penting untuk melaksanakan prinsip-prinsip good corporate governance.

    Menurut Donald P. Steagle dalam Managing The Small Business, bahwa untuk mencapai tujuan bisnisnya, perusahaan menghimpun lima jenis faktor produksi yang disebut five magnificent Ms, yaitu Money, Machines, Materials, Men dan Management. Yang dimaksud Men adalah pekerja dan Management adalah direksi. Ketiga faktor produksi pertama (money, machines dan materials) bersifat pasif se-dangkan kedua faktor produksi (men dan management) bersifat aktif.

    Tanpa dikelola oleh pekerja dan manajemen yang profesional, akuntabel, beretika dan bermoral tinggi, faktor produksi money, machines dan materials tidak dapat membantu perusahaan mencapai tujuan usahanya, termasuk mendapatkan keuntungan yang optimal. (”It is the men and the management who make profit” ).

    Kiranya tulisan ini dapat dijadikan sebagai bahan renungan kita menghadapi tantangan global yang sudah sangat nyata adanya dengan membenahi segala kekurangan-kekurangan yang terjadi selama ini dan melakukan kegiatan yang sesuai dengan tugas tanggung jawab yang sudah diamanahkan perusahaan, sekaligus berani mempertanggung jawabkan apa yang sudah diputuskan dan dikerjakan. Itulah sesungguhnya inti dari implementasi good corporate governance perusahaan yang ingin meraih bintang dalam arena trading kelas dunia. (Capt. H.Win P.Pamularso SH,M.Mar – Man.Pws Armada – Bina Armada Milik, Direktorat Pemasaran & Niaga)
    2 Responses to “Pengumpula

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: